Sunday, July 24, 2005

Berusaha Menguasai Dunia

"What are we going to do tonight, Brain ?"
"The same thing we do everynight, Pinky : Try to take over the world."
-Animaniacs


Alhamdulillah, tugas akhir sudah hampir selesai. Ujian. Lulus. Wisuda. Itulah rencana jangka pendek saya. Setelah lulus saya belum tahu harus kemana, mungkin saya akan membangun kembali cita-cita waktu kecil dulu yang sempat terhenti karena harus sekolah : Saya Akan Berusaha Menguasai Dunia. Dan ingat, seperti kata Eminem, no body is safe from me, no, not even me. Bersiap-siaplah.




ha ha ha ha. I'm just playing Indonesia, you know i love you. Do'a-kan semoga saya cepat lulus ya. Amin.

Monday, July 18, 2005

SBY Membunuh Saya

Sejak kecil saya telah jatuh cinta pada warna biru. Saya sendiri tidak tahu kenapa begitu mencintai warna biru. Hingga pada satu dini hari yang sunyi, saya disadarkan betapa warna biru yang saya cintai bisa menjadi pembunuh berdarah dingin yang sangat kejam.

Dini hari itu, sebagai seorang penderita insomnia, saya merasa lapar. Saya ingin menikmati indomie goreng sambil nonton TV, tapi apa yang saya dapat ? warna biru paling kejam yang pernah saya temui. Channel berapapun yang saya pencet hanya menawarkan warna biru yang menusuk mata. Saya dibunuh pelan-pelan dalam kesunyian.

Lalu siapa yang patut disalahkan atas percobaan pembunuhan itu ? Menurut saya Presiden SBY harus bertanggung jawab atas percobaan pembunuhan itu. SBY membunuh saya dengan dalih penghematan energi.

Pesan terakhir buat Pak SBY : Kekejaman berawal dari sikap baik yang teramat sangat

Tuesday, July 12, 2005

Kepada Dian Noor

Dian tercinta,
Enam tahun sudah sejak kamu dan kapal pesiarmu labuh untuk pertama kalinya di pelabuhan kecilku. Sejak saat itu pula tak bisa kuhindari rasa cinta yang amat sangat kepada dirimu. Pernah kucoba untuk menampik kenyataan itu dengan pergi memancing ikan, berlarian di sepanjang pantai, minum kelapa muda sampai mabok, ataupun membangun istana pasir tapi hal itu sia-sia saja karena pesonamu telah menyedot sebagian besar perhatianku di pelabuhan kecil ini.

Suatu hari aku mendengar dari beberapa orang di pelabuhan kalau kamu akan segera meninggalkan pelabuhan kecilku untuk melanjutkan perjalanan mengarungi samudera. Kupikir saat itu adalah saat-saat yang kunantikan karena aku akan berpisah denganmu dan tentunya dengan rasa cintaku padamu yang telah memberiku siksaan terindah ini. Tapi ternyata tidak.

Saat kau melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan pelabuhan kecil itu, aku merasa bahwa aku tak benar-benar ingin berpisah denganmu. Entah makhluk apa yang merasukiku saat itu hingga kuputuskan untuk mencuri sebuah kapal nelayan yang sedang terparkir di pelabuhan kecil sebagai sarana untuk mengikuti perjalananmu meski harus ke ujung dunia. Pikirku saat itu.

Dian yang mempesona,
Ternyata untuk sekedar mengikuti perjalananmu saja sulitnya bukan main. Mesin kapal milik nelayan yang kucuri itu hanya bertahan beberapa hari karena kehabisan bahan bakar. Untunglah masih ada dayung di kapal itu, tapi ternyata aku tak cukup punya tenaga untuk terus mengikuti perjalananmu hanya dengan menggunakan dayung. Aku sempat menyerah. Tapi begitulah Dian, setiap kali peralatan yang kupakai untuk mengikuti perjalananmu rusak, selalu saja ada orang-orang baik yang memberiku tumpangan. Tak kurang dari kapal tanker Pertamina, kapal selam, Dewa Ruci, kapal wisata, kapal perang, dan ribuan kapal nelayan dari seluruh penjuru dunia telah memberiku tumpangan.

Dian yang indah,
Satu hal yang tidak bisa kulupa dari perjalanan ini adalah setiap kali senja tiba. Saat itu kau pasti berdiri di haluan kapal (seperti di film Titanic) untuk memandangi senja yang mulai tenggelam. Di saat itulah aku berada di samping kapalmu untuk mengirimkan tanda-tanda dengan bendera semafor yang terbaca : Aku Mencintaimu atau kadang-kadang kukirimkan pula potongan-potongan puisi favoritku dengan menggunakan bendera semafor itu. Di atas haluan itu kamu tersenyum. Apapun arti senyuman itu, percayalah, aku suka.

Dian yang cantik,
Perlu diketahui, selama perjalanan ini, aku hanya mengikuti kapal pesiarmu dari belakang. Bahkan aku yakin kau belum tahu bahwa hanya karena cinta aku nekat mengikuti perjalananmu. Aku letih. Maka hari ini, dengan bantuan kapal dari para aktivis Green Peace, dengan susah payah dan sedikit memaksa aku berusaha untuk naik ke kapalmu guna menyampaikan surat ini kepadamu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Itu saja. Aku terlalu takut untuk mendengar jawaban. Jawaban lebih menyiksa daripada sebuah pertanyaan.

Dian yang manis,
Saat kau baca surat ini, mungkin aku sudah menjadi backpacker, aktivis Green Peace atau terdampar di satu pulau seperti yang dialami Tom Hanks di film Cast Away. Tapi percayalah Dian, dimanapun kau akan singgah di tiap pelabuhan manapun nantinya, di sana kamu akan disambut dengan satu baliho besar yang telah kusewa khusus untukmu dengan tulisan besar-besar : Dalam Diam, Andi Mencintaimu. Percayalah.

Dari yang menyewa baliho itu,

Andi

Tuesday, July 05, 2005

Near Death Experience

Terjadi pukul 09.42 pagi tadi. Hanya selama 1 menit 02 detik. Pusing-pusing, sulit bernafas, mau muntah, jantung berdebar-debar. Karena suaranya yang lembut telah menghancurkan jiwaku tapi di saat yang sama, dia memunguti kepingan jiwaku yang hancur itu dan menyatukannya kembali.

Terima kasih, Dian

Friday, July 01, 2005

Boys Don't Cry (Fiksi)

"Kenapa kamu mencintaiku ?"

"Semuanya hanya karena kamu."

"Saya yakin pasti ada alasan khusus kenapa kamu mencintaiku."

"Oke, saya mencintai kamu karena kamu cantik."

"Cuma itu ?"

"Mmmmhh, karena kamu baik."

"Tidak ada yang lain lagi ?"

"Setulusnya saya mencintai semua yang ada pada dirimu, percayalah !"

"Semuanya ?"

"Ya, semuanya."

"Termasuk perasaanku ?"

"Pokoknya semua, termasuk perasaanmu juga."

"Apakah perasaanku yang tidak bisa mencintaimu termasuk juga di dalamnya ?"